Dukung Konten Lokal Indonesia

Indonesia dengan ribuan pulau memiliki kekayaan adat istiadat dan kebudayaan yang beraneka ragam. Masing-masing daerah memiliki ciri khas masing-masing yang membedakan kebudayaan masing-masing daerah. Karya kebudayaan yang sering kita nikmati adalah bahasa daerah, rumah khas daerah, pakaian daerah, musik, kesenian, upacara daerah, dan sebagainya. Dari bebagai macam perbedaan tersebut membentuk satu kesatuan utuh kekayaan budaya Indonesia. Dan kita patut membanggakannya.

Seorang warga negara yang baik tentu akan sangat menghargai warisan budaya leluhur tersebut karena memang kesemuanya adalah aset negara yang bernilai sangat tinggi. Kita pasti akan sangat menyesal jika aset kita tersebut dicuri oleh orang lain atau bahkan diklaim milik mereka.

Salah satu hasil budaya yang saya bahas kali ini adalah musik. Seperti yang saya bahas kemarin pada posting‚OBeng Obrolan Bengawan XLaluCintaIndonesia‚sebuah obrolan ringan tentang kepedulian terhadap konten lokal Indonesia yang disupport penuh oleh @XL123, @idblognetwork, @BlogNusantara dan @Bengawan.‚Salah satu sesi pada Obrolan membahas sebuah studio rekaman pertama di Indonesia yang konsen menjaga budaya bangsa dalam bentuk rekaman yang jauh dari perhatian kita. Studio rekaman pertama tersebut adalah Lokananta. Kekayaan musik Indonesia ada disana semenjak awal kemerdekaan Indonesia. Berkat koleksi-koleksinya, Lokananta beberapa kali berhasil mematahkan pencurian hak intelektual anak bangsa yang diklaim Malaysia seperti lagu Sayange dan Terang Bulan. Ini merupakan bukti bahwa untuk mendukung konten lokal Indonesia tidak hanya perlu dengan menggembor-gemborkan kampanye dukung konten lokal Indonesia, namun kita juga harus memiliki kekuatan hukum, salah satunya adalah dengan mengoleksi rekaman dalam bentuk kepingan fisik serta data-data pendukungnya. Ini akan lebih menguatkan jika terjadi lagi karya anak bangsa diklaim oleh bangsa luar.

Dukung Konten Lokal Indonesia

Lokananta, image source : mubarika-darmayanti.com

Namun sekarang jaman sudah bergeser. Sudah banyak sekali studio rekaman di tanah air karena memang semakin banyak karya anak bangsa yang harus diberikan apresiasi terhadap karya-karya terbaiknya. Diiringi dengan perkembangan teknologi yang sangat cepat, karya-karya anak bangsa tersebut dengan sangat mudah disebarluaskan dengan cara yang ilegal. Banyak sekali kita temui karya anak bangsa dalam bentuk VCD dibajak secara massal di pinggir-pinggir jalan. Miris sekali memang, niatnya pengen mendukung konten lokal namun dengan cara yang kurang sesuai.

Konten yang saya bahas sekarang adalah konten yang disediakan oleh penyedia konten nasional seperti operator seluler. Cara yang sesuai menurut saya dalam mendukung konten lokal Indonesia khususnya musik adalah dengan berlangganan Ring Back Tone (RBT)‚di handphone kita. Mengapa? Karena dengan berlangganan berarti kita telah mengapresiasi karya tersebut dan memberikan donasi agar mereka (yang terlibat dalam lagu tersebut) akan terus berkarya dengan karya-karya terbaiknya.

Hal ini tentu tidak lepas dari peran sebuah operator seluler seperti XL yang terus konsen mengapresiasi musik-musik Indonesia masuk ke produk RBT-nya. Semakin banyak yang masuk ke dalam RBT, maka semakin banyak pula karya anak bangsa terselamatkan.

Konten lain seperti video baik video clip, video kesenian daerah dan lainnya juga harus kita perhatikan. Membajak sama saja dengan mencuri. Kita harus menghargai hasil karya sesama anak bangsa. Justru kita harus mendukungnya agar mendapat apresiasi di dunia luar.

2 thoughts on “Dukung Konten Lokal Indonesia

  1. Saya rasa penyedia konten lokal juga memerlukan persaingan yang sehat. Dan memberikan kontribusi pada buatan yang bermutu.

    Saya rasa penyedia konten juga perlu memberikan edukasi pada pelanggan secara positif dan terbuka, bukan hanya beriklan dan beriklan, yang kadang kala justru menyesatkan.

    Misalnya mengapa saya memilih buatan A dari dalam negeri, ketimbang buatan B, apa bagusnya, di mana letak nilai lebihnya, di mana letak nilai kurangnya.

    Karena di antara persaingan antara konten lokal dan asing, kita merupakan sebuah negara dengan daya konsumsi yang tinggi. Kadang kita lupa bahwa kita justru juga perlu berhemat. Misalnya kalau RBT tidak perlu, meski pun konten Indonesia, masa ya dibeli.

    Saya kadang sedih kalau nasionalisme dijadikan jajanan dan usaha pemasaran. Kalau saya suka sebuah lagu, saya akan beli CD Audionya meski berharga ratusan ribu rupiah, kalau saya suka sebuah tulisan, saya akan beli bukunya meski mahal.

    Kita punya produk sandang, papan dan pangan yang baik di dalam negeri. Kita mampu memenuhi kebutuhan primer dengan baik, namun yang karena kepentingan segelintir orang, akhirnya pada produsen lokal terkorbankan. Kalau untuk kebutuhan sekunder hingga tersier, ya silakan bagi mampu, untuk melirik dan mempertimbangkan buatan dalam negeri. Negeri ini terlalu pelik untuk mengurus hal-hal seperti itu.

    • Bener mas pihak penyedia konten memang kurang memberikan edukasi tentang pentingnya rasa nasionalisme dan rasa memiliki konten-konten lokal di tanah air. Yang dicuri orang baru merasa dimiliki sedangkan yang lain gak diurus.. Semoga kesadaran untuk mendukung konten lokal juga merambah ke dunia pendidikan sejak dini…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jawab Dulu: