[Review] Lauching DGD – New Premium Brand of Dagadu Jogja

Dani Setiyawan

Sekian lama saya sudah hiatus dari dunia penulisan blog ini, bisa dilihat feed terakhir post blog ini berhenti di bulan maret 13. Kalau hendak disampaikan mungkin terlalu banyak alibi yang akan saya keluarkan, hehe..

Akhir tahun ini saya berkesempatan kembali ke Jogja dalam rangka liburan akhir tahun bersama anak istri (buka kartu status hehe). Semenjak kamis pagi 22 Desember saya sudah sampai di Jogja dan langsung menuju kebun binatang GembiraLoka. Siang harinya saya berkesempatan hadir bertemu suhu-suhu IM dan Blogger Jogja dalam acara Launching website pariwisata IndoTrip.id. Setelah istirahat sejenak di hotel, kita kembali menyusuri jalan di Jogja dan berhenti di Taman Pelangi Monjali sampai malam.

Jumat pagi rencana awal kita ke De Mata De Arca Trick Eye Museum, namun sampai disana sudah dibooking oleh company gathering yang bawa 600 lebih personil. Daripada kurang asyik didalam, kami alihkan destinasi ke Taman Sari dan Taman Pintar.

Jumat malam (23/12/16) saya berkesempatan menghadiri undangan soft launching produk terbaru PT Aseli Dagadu Djokdja yaitu DGD. Soft launching diadakan di Smart Lounge Lippo Plaza Jogja. DGD merupakan brand baru karya produsen kaos Dagadu yang ingin menggaet segmen pasar menengah ke atas.

Pada acara soft launching DGD ini dikemas dalam sebuah talk show dan live perfomance dengan mengusung tema Nature, Culture dan Nurture. Acara diawali oleh live performance dari Indonesian Fingerstyle Guitar Community (IFGC) kemudian acara dibuka oleh host dengan memanggil masing-masing pembicara yaitu: Ahmad Noor Arief (PT. Aseli Dagadu Djokdja), Kadek Arini (Travel Blogger) dan Paksi Raras Alit (Penyiar Radio, Seniman dan Musisi Jogja).

Launching DGD

Sebagai Travel Blogger yang sudah melakukan perjalanan wisata ke seluruh tanah air maupun luar negeri, Kadek Arini mengklaim bahwa tidak ada yang mengalahkan destinasi-destinasi wisata alam di Indonesia. Semuanya ada di Indonesia, banyak sekali konten-konten dan ikon wisata yang sangat menarik dan hanya ada di Indonesia, tidak dimiliki oleh negara luar. Silahkan nikmati foto-foto travellingnya di https://www.instagram.com/kadekarini/ sangat menakjubkan.

 

Paksi Raras Alit sebagai musisi dan seniman Jogja menceritakan kiprah dan karirnya di musik. Mentradisi adalah nama grup musik yang dia gawangi kurang lebih 3 bulan memiliki aliran musik etnik jawa yang karya-karyanya membawakan tembang-tembang macapat dengan diiringi oleh alat musik modern. Menurut Paksi Raras, tembang macapat dulunya tidak diiringi oleh gamelan. Sekarang tembang macapat dengan iringan gamelan mulai dikenal dan enak didengar. Lambat laun tembang macapat yang dikemas dan diiringi dengan musik-musik kekinian akan memiliki penggemarnya kelak. Dia bangga dan yakin musik etnik modern akan berkembang. Karya lokal yang dikemas dan didesain menarik sesuai jamannya tentu menjadi peluang yang besar untuk menjadi global.

Ahmad Noor Arief sebagai Direktur Utama PT Aseli Dagadu Djokdja menceritakan perjalanan Kaos Dagadu Jogja. Brand baru DGD ini merupakan sebuah inisiatif dan tantangan pak Arief bersama team untuk mengembangkan sayapnya lebih besar lagi. Jika sebelumnya Dagadu mayoritas kaosnya bertema dan berkonten seputar Jogja, di brand baru DGD ini akan bertema Indonesia. Dengan semangat Glocalization, Dagadu yang telah sukses mengembangkan kreativitas, sensitivitas, lokalitas kedaerahan menjadi produk yang memiliki image khas jogja. Kini DGD ingin mengembangkan semangat tersebut dengan konten Indonesia dan diterima oleh semua kalangan.

Acara diselingi oleh live performance dari anak-anak Indonesian Fingerstyle Guitar Community (IFGC).

 Indonesian Fingerstyle Guitar Community (IFGC)
Image Dani Setiyawan

DGD, Glocal Thinking

Kreativitas, sensitivitas terhadap teknologi, multitude perspektive merupakan modal-modal utama yang diperlukan untuk memacu Glocal. Lokalitas yang kerap diidentikkan dengan muatan kedaerahan. Lokalitas sebagai konsep umum yang berkaitan dengan tempat atau wilayah tertentu. Dari segi budaya, lokalitas akan bergerak dinamis dan lentur mengikuti perkembangan. Indonesia memiliki konten kualitas yang sangat besar menjadi tantangan PT Aseli Dagadu Djokdja untuk mengembangan karya-karyanya dengan tema Lokalitas Indonesia. Itulah background utama terciptanya brand premium DGD.

Tagline Nature, Culture dan Nurture menjadi semangat baru DGD dalam menceritakan lokalitas Indonesia sebagai sebuah harta (treasure) yang selalu membuat penasaran untuk digali dan dikaji. Kekayaan alam dan budaya Indonesia menjadi DNA untuk inspirasi desain grafis di DGD. Team kreatif desain tidak akan kehilangan ide-ide mereka dalam menciptakan karya desain. Contohnya saat DGD mengangkat desain fauna Indonesia dengan menampilkan Badak, Orang Utan dan Komodo menjadi desain yang realis dalam bentuk origami. Sehingga desain binatang-binatang endemik tersebut tersaji dalam desain teknik melipat khas jepang yang simple namun modern.

Menggunakan multiple perspective, DGD mencoba menerjemahkan dan menginterpretasi ulang ikon, simbol dan nilai lokal dalam bahasa visual kekinian. Sebuah olah visual yang berpijak pada tradisi yang diolah secara progressive. Oleh karenanya GDG menyasar segmen anak muda urban.

Pernak-pernik tulisan di DGD
Image nasirullahsitam

Sehingga inilah DGD, satu karya terbaru persembahan PT. Aseli Dagadu Djogja.

Gerai DGD yang ada di Lippo Plaza Jogja
Image nasirullahsitam
image: bagus gowes
Image bagusgowes
Kaos DGD ini seharga 120K, bagus dan menarik grafisnya
Image nasirullahsitam
Ada yang minat dengan tas seperti ini? Harganya 240K
Image nasirullahsitam

Bagi kalian yang penasaran dengan desain-desain DGD ini bisa samperin ke Gerai Lippo Plaza Jogja.

2 comments

    • dHaNy Post authorReply

      hehe.. iya mas Tomi apalagi sekarang udah berganti status ya…
      2 april mas tomi ke acarane Apri…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *